NgeShare - Kamera Impian

 Sekitar semingguan yang lalu, saya baru saja menonton salah satu video lama dari channel youtube Gadgetin dengan judul "Beli gadget impian sejak zaman kuliah". Sebuah video yang kebetulan waktu itu muncul di beranda aplikasi youtube saya, yang berisi (spoiler dikit boleh ya, hehe...) tentang pencapaian Mas David membeli kamera impiannya sejak zaman kuliah.



Setelah melihat video itu, saya jadi teringat momen yang hampir sama dengannya 1 bulan lalu, yaitu membeli kamera impian. Eits, tapi sebelumnya saya mau klarifikasi dulu kalau di sini saya nggak bermaksud buat flexing, ya. Di sini saya cuma sekadar ingin berbagi cerita atau bisa dikatakan juga sebagai pengalaman mengejar impian lama saya.

Ok, kembali lagi ke ceritanya. Jadi, tepat 1 bulan yang lalu saya baru saja membeli sebuah kamera. Sama halnya seperti mas David, bukan kamera baru yang saya beli, melainkan kamera bekas. Ya, kamera bekas dengan merk Sony yang tipenya alpha 6000. Sebuah kamera lama yang dirilis pada tahun 2014. Hmm... 2014? Jadi keinget tahun awal-awal saya kuliah. Nggak kerasa ternyata sudah lewat 10 tahun, ya.

Kalau ditanya kira-kira alasannya kenapa saya membeli kamera tersebut? Jawabannya juga sama seperti mas Mas David (kok sama mulu, ikut-ikutan, cih, haha...), karena "impian". Ya, impian, impian kepengen punya sih, hehe…

Pada awal rilisnya kamera ini, sebenarnya saya belum begitu tertarik dengannya. Apalagi kepikiran buat punya kamera. Toh kamera sudah ada di handphone, dan menurut saya itu sudah lebih dari cukup untuk sekadar memotret. Apalagi untuk sekadar memotret di kala gabut.

Ketertarikan saya kepada kamera itu justru baru muncul di 3 tahun setelah perilisannya, dan munculnya ketika melihat seorang kawan (yang kini sudah jadi fotografer handal) menggunakannya. Saya lihat kamera yang digunakan oleh kawan saya itu begitu praktis dan juga compact. Saya juga sempat mencobanya sebentar, dan setelah itu saya justru jatuh hati kepada kamera itu hingga membuat saya mbatin (berkata) dalam hati, "Semoga suatu saat nanti, saya bisa membelinya."

Alhamdulillah, akhirnya hal itu bisa saya tunaikan 7 tahun kemudian. Kebetulan karena ada sedikit rejeki buat beli dan ketemu dengan harga yang sesuai. Oiya, ini saya belinya online ya di salah satu marketplace Indonesia. Memang agak khawatir sih waktu mau beli online, apalagi belinya yang bekas. Tapi sebelum memutuskan untuk membelinya, saya berkonsultasi dulu ke kawan saya tadi. Selain biar nggak terlalu khawatir, juga biar bisa dapat referensi toko yang menurutnya worth it. Ya, soalnya dia kan lebih ngerti dan ahli soal kamera dibanding saya yang masih pemula.

Alhasil inilah kameranya, kamera impian saya sejak lama dan sekaligus jadi kamera pertama. Walaupun nggak baru karena seri ini sudah nggak diproduksi lagi, dan hanya kamera bekas yang di beberapa sisinya ada beberapa baretnya, tapi sejauh ini saya puas. Selain karena salah satu impian bisa terwujud, juga karena kondisi kameranya, terutama fungsinya yang masih mulus. Masih okelah buat sekadar foto-atau membuat video receh, hehe…


Oiya, barangkali kalau ada yang mau mampir buat melihat hasil jepretan saya menggunakan kamera ini, bisa dilihat di porftolio shuterstock saya, ya. Tautannya ada pada tombol di bawah ini.



Nah, sekiranya itu cerita saya tentang pengalaman membeli kamera impian sejak lama. Dari cerita saya ini sebenarnya nggak ada pelajaran spesial di dalamnya sih. Tapi kalau ditanya tentang pelajarannya apa? Mungkin beberapa dari pembaca sudah menyadarinya. Sombong? Pamer? Eits,, maaf bukan itu. Kalaupun misal ada yang kepikiran kayak gitu, ya nggak apa-apa sih. Toh penilaian tiap orang kan beda-beda. Tapi dari setiap cerita atau pengalaman pasti ada pelajaran baiknya kan, ya. Walaupun itu mungkin hanya sebesar butiran debu (ceileh…). Dan pelajaran dari cerita saya ini tidak lain tidak bukan adalah pelajaran tentang sebuah hal sederhana yang nggak semua orang bisa, yaitu “sabar”.

“Beli pengalaman, bukan barang. Menghabiskan uang untuk pengalaman membuat seseorang lebih bahagia daripada menghabiskan uang untuk barang. Barang akan rusak dan tidak lagi kekinian. Pengalaman akan menjadi lebih seru setiap kali Anda membicarakannya.” ~ Jean Chatzky

Share:

4 komentar:

  1. Pengalaman itu tidak akan pernah muncul tanpa kita mengalaminya sendiri, ya, Mas Suryo.

    BalasHapus
  2. Keren bangeet mas hasil foto-fotonya,sudah banyak juga ternyata, apa udah ada yang melirik nih...hobi & kegiatan yang nyenengin hati idan iklas ngelakuinnya tu emang bisa terlihat dari hasilnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe makasih mbak, alhamdulillah kegabutan yang menghasilkan ya, tapi sayangnya belum ada yang melirik, nggak apa-apa ya, kalaupun ada yang melirik itu namanya bonus, yang penting tetap dijalani & dinikmati dengan bahagia :D

      Hapus